Ken Arok Putera Raja Jenggala.
Kerajaan Kahuripan yang didirikan oleh Raja Airlangga kemudian di bagi menjadi dua, yaitu Kerajaan Panjalu dan Jenggala.namun perseteruan keduanya terus terjadi. Dimasa Prabu Jayabaya, Panjalu memenangkan peperangan dan menyatukan keduanya di tandai prasasti menyatakan Panjalu Jayati.
Akan tetapi raja penerusnya Rake Sirikan Sri Sarweswasra tahun 1159M terjadi pergolakan suksesi tahta yang membuat Janggala kembali memberontak, peredaman situasi kemudian dilakukan dengan cara menikahkan putera mahkota Panjalu dengan Puteri Jenggala. Tahun 1185M pernikahan itu terjadi antara Kameswara dengan Puteri Sasikirana. Namun kesepakatan ini dikhianati karna yang naik menjadi Raja berikutnya pada Tahta Daha adalah Raja Kertajaya. Yang menurut sudut pandang pihak Kerajaan Jenggala yang naik tahta adalah anak dari Puteri Sasikirana dengan Kameswara. Sedangkan Kertajaya adalah adik Kameswara.keduanya putera Rakai Sirikan Sri Sarweswara, Cucu Prabu Jayabaya Raja Panjalu. Maka perang Jenggala dan Panjalu kembali pecah tahun 1194M, raja Kertajaya pada mulanya dikalahkan dan mundur keluar kutaraja. Raja Jenggala bergelar Sri Maharaja Girindra atau girinata penganut agama siwa.
Pecahnya peperangan itu tersirat dalam Prasasti Kamulan bertarikh 31 Agustus 1194M atau bulan Palguna, ketujuh, tahun saka 1116. Disebutkan dalam prasasti bahwa Raja Kertajaya tersingkir dari istananya akibat serbuan musuh dari arah timur —penyerbuan itu terjadi sekitar lima bulan sebelum keluarnya Prasasti Kamulan.
Akan tetapi masih di tahun itu juga 1194 M raja kertajaya kembali menaklukkan Jenggala dan berkuasa penuh atas Panjalu dan jenggala. Putera Raja Jenggala Pun di sembunyikan dari sejarah dan terlunta lunta hidupnya bukan sebagai orang Istana.
Dalam Negarakertagama, ken arok di katakan sebagai Girinataputra.
Di dalam Kitab Negarakertagama Ken Arok
disebut dengan nama Ranggah Rajasa Ken Arok Sang Putra Girindra, yang kisah hidupnya
diawali pada tahun Saka Lautan Dasa Bulan,
1104 saka, ada raja perwira yuda, Putera
Girinata. Konon kabarnya, lahir di dunia tanpa
ibu. Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki sebagai tanda bakti. Ranggah Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak. Daerah luas sebelah timur Gunung Kawi terkenal subur makmur. Di situlah tempat putera sang Girinata menunaikan darmanya. Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan negara. Ibu negara bernama Kutaraja, penduduknya sangat terganggu. Tahun Saka Lautan Dadu Siwa, 1144 saka, beliau melawan Raja Panjalu. Sang adiperwira Kertajaya, putus sastra serta tatwo padesa. Kalah ketakutan, melarikan diri ke dalam biara kecil. Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh. Setelah kalah narapati Kediri, Jawa di
dalam ketakutan. Semua raja datang menyembah membawa tanda bakti hasil tanah. Bersatu Jenggala Panjalu dibawah kuasa satu raja sakti. Cikal bakal para raja agung yang akan memerintah Pulau Jawa. Makin bertambah besar kuasa dan megah putera sang Girinata. Terjamin keselamatan Pulau Jawa selama menyembah kakinya. Tahun Saka Muka Lautan Rudra, 1149
saka, beliau kembali ke Siwa pada. Di candikan di Kagenengan bagai Siwa, di Usaha bagai
Budha (terjemahan Slamet muljana PUPUH 40
Kitab Negarakertagama bait1-5).
Kitab Negarakertagama memberikan
keterangan pada tahun 1104 Saka (1182 M) ada seorang raja besar yang perwira putra Sang Girinata yang ”lahir tanpa ibu” (“tidak melalui kandungan ibu”). Maksud dari pernyataan ‘konon kabarnya lahir tanpa seorang ibu ’dalam Kitab Negarakertagama sebagai mana ditulis Prapanca adalah kenyataan bahwa Ken Arok lahir tanpa di
asuh ibu kandung sendiri. Kisah ini mirip
kelahiran Basukarna yang dilarung Kunti dan
terpaksa disusui dan diasuh istri sang Radeya.
Meskipun demikian Prapanca juga mengetahui
riwayat Ken Arok sebagai keturunan raja
Jenggala yang menganut Siwa dikenal juga
sebagai sang Girinata. Prapanca juga menyebut Ken Arok alias Ranggah Rajasa sebagai putra Girinata. Ini menunjukkan kenyataan sejarah bahwa Ken Arok adalah putra raja Jenggala. Sri Ranggah Rajasa, penggempur musuh, pahlawan bijak dan semua orang tunduk sujud menyembah
sebagai tanda bakti. Kerajaan ini mempunyai
wilayah subur dan luas disebelah timur Gunung Kawi tempat menunaikan dharmanya. Ibu kota
kerajaannya bernama Kutaraja. Tahun 1144 Saka (1222 M) Ken Arok melawan Raja Kertajaya dan mampu mengalahkannya dan Panjalu (Kadiri) dapat direbutnya. Bersatulah Jenggala dan Panjalu (Kadiri) di bawah kekuasaannya. Pada tahun 1170 Saka (1227 M) beliau pulang ke Swargaloka, dicandikan di Kagenengan sebagai Siwa dan di Usana sebagai Buddha. Kitab Negarakertagama mengemukakan pula bahwa Bhatara Girinatha putra disembah bagaikan dewa, beliaulah moyang Sang Raja Hayam Wuruk
(Salindri, 2019).
Sementara dalam Pararaton setiap Ken arok mendapat masalah maka ia selalu di lindungi Dewa.
Pertikaian Jenggala dan Panjalu masih berlanjut hingga kemudian Daha di runtuhkan oleh kasultanan Demak Bintara.
Sc
Di olah dari berbagai sumber
Siwi sang
Salindri (2019)